Blog Section

RSMA Masa Depan Lakukan Disruptive Innovation

RSMA dalam sejarah adalah untuk mengembangkan visi dan misi mulia Muhammadiyah melalui sebuah amal nyata di bidang pelayanan kesehatan. Dalam perjalannya, RSMA tumbuh dan berkembang dengan berbagai kendala yang ada. RSMA kompetisi bersama dengan rumah sakit lain termasuk rumah sakit keagamaan non islam yang diawali dengan rumah sakit milik zending / misionaris nasrani sejak zaman penjajahan serta munculnya rumah sakit baru dalam bentuk badan hukum PT (Perseroan Terbatas) dalam misi bisnis dan ingin memenangkan kompetensi serta mengalahkan lawan.

RSMA ke depan perlu melakukan inovasi disruptif, yaitu sebuah inovasi untuk mentransformasi suatu sistem / pasar yang eksiting dengan memperkenalkan kepraktisan, kemudahan akses kenyamanan, biaya ekonomis, tetapi tetap berbasis pada nilai Islam Kemuhammadiyahan yang menjalankan misi dakwah nilai-nilai Islam.

RSMA hari ini secara nasional mempunyai jurang pemisah yang besar, ada yang sudah eksis dengan SDM profesional jumlah banyak, status dokter / purnawaktu, sarana prasarana lengkap, akreditasi paripurna, tetapi ada juga yang masih kembang-kempis mengandalkan sumbangan masyarakat / subsidi, likuiditas jelek, punya hutang, tanpa FS dan tidak didukung kemampuan membayar, dan lain-lain.

RSMA dalam pengelolaan masih muncul ego sektoral, memikirkan rumah sakit masing-masing dan kurang peduli kepada rumah sakit lain yang belum bisa mandiri. Hal ini tidak lepas ari sejarah pendirian rumah sakit yang kadang dipelopori oleh Muhammadiyah dengan level yang berbeda seperti PCM, PDM, PWM, maupun PP Muhammadiyah, dan kadang mengedepankan semangat tanpa kesiapan sumber dana.

SDM RSMA hari ini belum menjadi aset Muhammadiyah / Aisyiyah. Rekruitmen direktur, dokter, maupun tenaga SDM lain diangkat oleh masing-masing rumah sakit yang belum menegaskan bahwa yang bersangkutan adalah SDM Muhammadiyah yang bisa diberdayakan oleh Muhammadiyah di manapun. Hal ini berdampak ada Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dengan SDM berlebihan, di sisi lain ada Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) kekurangan dan kesulitan mencari SDM. Sedang SDM tidak dapat dimobilisasi ke antar ranah / wilayah Muhammadiyah lain.

BPH / MPKU masih perlu pembekalan manajemen rumah sakit dan kompetensi tambahan sehingga “kekuasaan” BPH dan MPKU mampu mengarahkan RSMA untuk tumbuh dan berkembang secara benar serta berwawasan nasional bukan hanya RSMA lokal, sehingga kedepan perlu pengurus BPH dan MPKU digodog di “Lemhannas” versi Muhammadiyah untuk para anggota BPH / MPKU dan Direktur RSMA agar wawasannya utuh.

Jejaring RSMA hari ini masih semu, sehingga perlu regulasi versi Muhammadiyah yang mempersatukan RSMA sehingga benar-benar bisa menjadi jejaring yang sebenarnya. Hal ini perlu kajian bersama lintas AUM, lintas majelis dikoordinasi oleh PDM.

RSMA perlu ke depan sebagai holding yang melakukan aktivitas menyatukan RSMA dalam menghadapi berbagai persoalan terkait dengan pengelolaan rumah sakit seperti menghadapi regulasi pemerintah, perpajakan, pengadaan barang dan jasa, aspek hukum, maupun aspek teknis RSMA.

RSMA ke depan harus pro-aktif , inovatif, dalam menghadapi era disruptif sehingga perlu pendekatan berbagai perubahan  dalam menghadapi berbagai cara regulasi, mulai dari pengelolaan yang professional dan kreatif, mengambil hikmah dan keuntungan dari perubahan regulasi maupun upaya-upaya politik untuk melakukan negosiasi maupun perlawanan terhadap regulasi yang lahir yang tidak sesuai dengan keadilan dan merugikan RSMA.

Semoga RSMA ke depan makin berkembang dan mencerahkan serta dengan landasan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dapat sebagai sarana meraih ridho Alloh dan tiket surga-Nya Alloh. Aamiin.

Temanggung, 12 Oktober 2019

Dr. drg. H. Edi Sumarwanto, MM., M.H.Kes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *