Blog

E-World Hospital??

Kemajuan tekonologi menjadi satu keniscayaan saat ini. RS PKU Muhammadiyah Temanggung telah menetapkan visi menjadi e-world hospital yang  mendukung pelayanan komprehensif. Sebagai salah satu upayanya, manajemen menetapkan bahwa semua karyawan di RS PKU Muhammadiyah harus melek komputer.

Butuh waktu yang panjang untuk sampai tahap ideal  namun perjuangan telah dimulai. Tahun 2009, manajemen telah memulai dengan pengadaan komputer di unit-unit pelayanan yang berhubungan dengan pasien. Alasan yang melatarbelakangi adalah impian awal direktur bahwa visi tersebut akan terwujud pertama-tama adalah dengan  terimplementasikannya SIM. Tak mudah pada awalnya, karena tak semua orang sudah mengenal dan terbiasa menggunakan komputer. Komputer yang ada di masing-masing unit awalnya hanya digunakan oleh sebagian karyawan. Jumlah pengguna dan frekuensi penggunaannya pun  masih sangat rendah. Di beberapa unit, masih ada asisten manajer yang bahkan belum pernah sama sekali menggunakan komputer.

Tak ayal, cibiran pun bermunculan. Bagaimana visi akan terwujud kalau komputer saja tak kenal?

Jumlah cibiran bisa jadi sama besarnya dengan jumlah harapan. Ada sebagian early adopter yang terus bertahan dengan harapan itu. Barangkali jumlahnya tak sebanyak massa mengambang namun mereka terus melangkah. Keyakinan  bahwa visi akan tercapai jika terus diupayakan pemenuhannya perlahan-lahan mulai  terlihat. Karyawan pengguna komputer bertambah jumlahnya. Sedikit demi sedikit. Para asisten manajer dan manajer dipaksa harus membuat laporan triwulan dan laporan tahunan dalam bentuk soft-copy. Mau tidak mau, suka tidak suka laporan harus dibuat. Maka, komputer yang sudah ada pun dimanfaatkan. Rasa malu dan sungkan untuk belajar pada yang lebih muda disingkirkan. Tak ada salahnya belajar pada yang lebih muda kalau memang mereka lebih paham.

Tahun 2010-2012. Tahun bertambah tapi penggunaan komputer masih saja hanya berfungsi sebagai pengganti mesin ketik. Hampir tak ada nilai tambah yang terasa kecuali tulisan menjadi lebih rapi atau ketika akhirnya terhubung dengan internet. Nilai manfaatnya pun sangat sedikit. Konsumsi komputer plus internet lebih banyak untuk download lagu, film atau sekedar window shopping.  Pada satu episode, hampir terjadi “patah semangat sistemik.” SIM  yang sedang dibangun belum menunjukkan efek yang terasa “menguntungkan” sementara justru potensi “keterlenaan” terkait jaringan internet semakin meningkat tajam.

Terjadi euforia yang cenderung negatif. Dari semula tidak mengenal dan enggan menggunakan komputer menjadi konsumen komputer ber -internet yang mencari apa saja dengan bantuan internet. Hanya unit-unit tertentu yang mau menggunakan SIM yang dalam proses dibangun ini. Di sisi lain, ada indikasi pelayanan pada pasien kadang-kadang terkalahkan dengan keasyikan berinternet ria. Muncul ide untuk pembatasan penggunaan internet tapi kemajuan teknologi telanjur tak terbendung. Tak mudah membatasi langkah. Salah satu upaya yang dilakukan kemudian adalah mendorong penggunaan internet untuk meningkatkan pengetahuan. Terkait dengan tugas keseharian.

Dokter, perawat, laboran, farmasis, ahli gizi, radiografer, perekam medis, petugas-petugas back office, petugas-petugas front office dan semua civitas hospitalia  didorong untuk melalui proses dan mengembangkan budaya belajar. Hal ini sesuai missi RS  untuk menjadikan organisasi di rumah sakit sebagai learning organization. Manajemen mengoptimalkan misi mensinergikan antara manusia bersumberdaya, organisasi, teknologi dan lingkungannya untuk mendukung terwujudnya e-world hospital. Teknologi informasi pun menjadi lebih digalakkan dalam upaya mengembangkan misi menjalin dan mengembangkan jejaring.

Email dan sosial media menjadi salah satu sarana pekerjaan yang memudahkan. Mulai terasa lebih banyak manfaatnya. Stake holder yang menawarkan produk dimudahkan dengan fasilitas ini. Tim  pengadaan dan ketatausahaan menjadi lebih cepat dalam mengakses informasi untuk pertumbuhan RS. Diklat dan Personalia lebih dimudahkan berhubungan dengan mitra-mitra RS.  Tim -tim yang ada di RS seperti tim Jamkesmas, Tim Patient Safety, Komite Medis dan Tim Mutu dimudahkan dalam mencari literatur-literatur terkini. Kehumasan pun menjadi lebih berkembang berkat  merasakan manfaat  penggunaan komputer berikut internet.

Tahun 2013.

Manajemen mengambil keputusan besar terkait SIM. Tak cukup dengan membangun sendiri, kali ini vendor SIM diundang untuk melakukan beberapa rangkaian presentasi. Berbagai pertimbangan akhirnya mengerucut menjadi keputusan bermitra dengan salah satunya. Penggunaan komputer untuk implementasi SIM kembali digalakkan. Namun, kendala baru muncul dengan wujud yang agak berbeda. Kegemaran bersosial media lagi-lagi seakan memiliki dua sisi tajam. Di satu sisi ada sisi manfaatnya, di sisi lain pasien menjadi korbannya. Konon, ada sebagian pasien yang terbengkalai karena petugas lebih asyik di depan komputer. Ini bukan komplain pelanggan, tapi mawas diri secara internal.

Upaya pembatasan harus kembali dilakukan. Melalui surat perintah dinas pada petugas IT RS, direktur menetapkan pemberlakuan “blocking” jalur sosial media terbesar saat itu. Seluruh civitas hospitalia tidak diperkenankan mengakses sosial media melalui komputer RS. Para asisten manajer kembali didorong untuk serius belajar mengenai SIM dan implementasinya. Mereka diminta melibatkan rekan-rekan seruangannya juga. Berkali-kali tim IT dan vendor bahu membahu memberikan pelatihan dan workshop di kelas maupun di ruang-ruang kerja.  Sekali lagi tidak mudah, tapi jumlah early adopter nya sudah bertambah.

Tahun 2014

Mereka berupaya menyemangati diri sendiri untuk  belajar SIM karena mereka sudah yakin bahwa kelak semua orang akan lebih dimudahkan dengan suksesnya implementasi SIM ini. Mereka mendorong rekan lain untuk juga belajar dan mau terlibat dalam proses develop/membangun SIM RS ini. Pelan tapi pasti jumlah pengguna komputer untuk melakukan billing bertambah. Salah satunya terdorong semangat bahwa jika mereka rajin melakukan input, maka mereka bisa memberikan informasi dengan cepat jika ada yang bertanya, “Kira-kira berapa biaya yang harus saya bayarkan saat selesai pelayanan nanti ya?’.

Mungkin belum seindah istilah e-world hospital, tapi mulai tumbuh keyakinan di hati, bahwa komputer-komputer berikut semua fasilitas yang ada di dalamnya akan dapat digunakan sebagai sarana untuk menunjang pelayanan prima pada pasien, pelanggan dan stake holder terkait. Itu adalah keyakinan sederhana yang insyaallah akan menjadi pemicu bagi  perjalanan peningkatan kualitas berkesinambungan = continuous quality improvement (CQI).

Mungkin belum memuaskan semua pihak, tapi kami bangga dan bersyukur jika ada yang merasakan bahwa kami berupaya untuk Ikhlas dalam Bakti Kami. Kami terus melangkah dan berproses, karena kami yakin Allah SWT selalu memberikan berkah di setiap proses itu. Sungguh kami merasa bahagia ketika tangan-tangan pelanggan terulur berpamitan dan berjanji bahwa akan tetap menjaga silaturrahiim dengan RS ini berikut semua civitas hospitalia-nya pasca mendapat pelayanan dari kami. Sungguh kelegaan itu membuncah ketika senyum para pasien dan keluarganya terlukis di wajah sebelum kami berpisah.

Sungguh-sungguh kami meyakini, bersama anda semua-lah kami bertumbuh. Tak mungkin RS ini berkembang dengan sendirinya (dari semula berupa balai kesehatan masyarakat tanpa kamar rawat inap menjadi RS berkapasitas 155 tempat tidur). Tak mungkin jika tanpa ada yang percaya bahwa kami bisa. Kami berupaya untuk selalu memupuk SOFT & FAST sebagai budaya mutu kerja kami. Smile, Openhearted, Friendly, Tenderly & Fatonah, Amanah, Shiddiq dan Tabligh. Itulah rangkaian sifat baik yang sedang berusaha kami tanamkan di dada kami sehingga terwujudlah ia adalam pin pelengkap name tag kami. Itu adalah upaya agar kami bisa bertumbuh bersama anda. Melayani dengan cara terbaik yang kami bisa.

Terwujudnya RS PKU Muhammadiyah Temanggung sebagai e-world hospital yang mendukung pelayanan kesehatan komprehensif sesuai kebutuhan pasien dan menjadi rujukan bagi rumah sakit PKU Muhammadiyah di Indonesia, didasarkan iman kepada Allah SWT menjadi visi yang terus kami jaga.

Di atas semua itu, hanya kepada Allah SWT lah kami sandarkan harapan.

Allahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *