Rate this post

Jalan Senyap Tim MDMC: Kisah Pengabdian Tanpa Sorak di Tanah Longsor Banjarnegara

Karya : dr. Masruri, M.sc, Sp.A

Mahasiswa S2 Program MARS UMY Yogyakarta

Dalam setiap bencana, selalu ada dua kisah yaitu kisah kerusakan yang tampak dan kisah keteguhan yang bekerja dalam diam. Di Banjarnegara, kala tanah bergerak dan rumah-rumah roboh diterjang longsor, ada sekelompok relawan yang hadir tanpa banyak kata. Mereka datang bukan untuk mencari sorotan, melainkan karena panggilan kemanusiaan. Mereka adalah Tim MDMC RS PKU Muhammadiyah Temanggung, tim yang melangkah di “jalan senyap” namun meninggalkan jejak besar bagi para penyintas pada tanggal 24-26 November 2025.

Tidak ada sirene yang memanggil. Tidak ada keramaian yang mengantar. Saat kabar longsor di Banjarnegara menggemparkan warga Jawa Tengah, mereka bergerak cepat. Dalam waktu singkat, mereka sudah mengemas peralatan medis, logistik ringan, dan perlengkapan pribadi apa adanya. Mereka berangkat dengan satu semangat:

Ketika ada saudara yang membutuhkan, tidak ada alasan untuk menunda.”

Di tengah hujan yang masih turun dan akses jalan yang sulit, tim tetap melanjutkan perjalanan. Jalanan licin, lereng-lereng rawan susulan, dan kabut tebal tidak menghalangi langkah mereka. Mereka tahu, setiap menit berarti bagi korban yang menunggu pertolongan.

Sesampainya di lokasi, tim MDMC tidak langsung disambut dengan tenda yang nyaman. Yang mereka temukan adalah masyarakat yang kelelahan, menangis, kehilangan rumah, kehilangan keluarga. Di titik itu, para relawan memutuskan untuk tidak bertanya banyak. Mereka langsung bekerja menangani luka-luka ringan hingga cedera serius akibat reruntuhan, melakukan asesmen kesehatan pada kelompok rentan: anak-anak, ibu hamil, dan lansia, membantu evakuasi warga di area rawan, memberikan dukungan psikososial sederhana: mendengarkan, menenangkan, menguatkan. Pelayanan yang mereka berikan bukan sekadar tindakan medis. Ada empati yang disisipkan di setiap sentuhan, setiap kata, setiap doa kecil yang terucap lirih ketika merawat korban.

Tidak banyak kamera. Tidak banyak dokumentasi. Tidak banyak publikasi, mereka memilih bekerja dalam senyap, karena bagi mereka: pengabdian bukan untuk dipamerkan, pertolongan tidak butuh panggung dan yang terpenting adalah nyawa dan harapan yang terselamatkan. Meski berada jauh dari rumah dan keluarga, tim tetap menjalankan tugas hingga situasi di beberapa titik mulai terkendali. Lelah, dingin, dan risiko keselamatan pribadi tidak menjadi alasan untuk berhenti. Di tengah keterbatasan, mereka menunjukkan bahwa ketulusan selalu menemukan caranya sendiri untuk bekerja.

Dari pengabdian mereka di Banjarnegara, kita belajar bahwa: kebaikan tidak selalu datang dengan gemerlap, kepahlawanan tidak selalu memakai seragam mewah, pengabdian tidak selalu terdengar sering kali justru hadir dalam hening. Tim inilah bukti bahwa Rumah Sakit bukan hanya tempat merawat di dalam gedung, tetapi juga institusi yang bergerak menembus batas, hadir di tengah masyarakat di saat paling sulit.

“Jalan senyap” yang dilalui para relawan mungkin tidak banyak diketahui orang. Namun jejaknya sangat terasa oleh mereka yang menerima uluran tangan itu: ibu yang kehilangan rumah, anak yang ketakutan, lansia yang menunggu bantuan dan keluarga yang nyaris kehilangan harapan. Dan bagi RS PKU Muhammadiyah Temanggung, pengabdian ini adalah wujud nyata dari nilai-nilai kemanusiaan yang selalu dijaga, yaitu menolong sesama, menguatkan yang rapuh dan hadir saat dibutuhkan.

Karena di balik setiap aksi diam, ada doa yang bekerja. Di balik setiap langkah, ada harapan yang dibangun kembali.

Salam Kemanusiaan

Eksplorasi konten lain dari RS PKU Muhammadiyah Temanggung

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca